https://journal.iktgm.ac.id/pharmacy/issue/feedGraha Medika Pharmacy Journal2026-02-17T06:27:51+00:00Moh Rasyid Kuna, S.Farm., M.Farm[email protected]Open Journal Systems<p><span style="color: #333333; font-family: 'Fira Sans', sans-serif; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant-ligatures: normal; font-variant-caps: normal; font-weight: 400; letter-spacing: normal; orphans: 2; text-align: start; text-indent: 0px; text-transform: none; widows: 2; word-spacing: 0px; -webkit-text-stroke-width: 0px; white-space: normal; text-decoration-thickness: initial; text-decoration-style: initial; text-decoration-color: initial; display: inline !important; float: none;">Graha Medika Pharmacy Journal merupakan media publikasi ilmiah di bidang kefarmasian yang diterbitkan oleh Program Studi S1 Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Institut Kesehatan & Teknologi Graha Medika. </span></p> <p><span style="color: #333333; font-family: 'Fira Sans', sans-serif; font-size: 16px; font-style: normal; font-variant-ligatures: normal; font-variant-caps: normal; font-weight: 400; letter-spacing: normal; orphans: 2; text-align: start; text-indent: 0px; text-transform: none; widows: 2; word-spacing: 0px; -webkit-text-stroke-width: 0px; white-space: normal; text-decoration-thickness: initial; text-decoration-style: initial; text-decoration-color: initial; display: inline !important; float: none;">Graha Medika Pharmacy Journal terbit dua kali setahun, yaitu setiap bulan Juni dan Desember.</span></p>https://journal.iktgm.ac.id/pharmacy/article/view/270ANALISIS TINGKAT KEPUASAN PELANGGAN TERHADAP SISTEM PELAYANAN FARMASI DI APOTEK KIMIA FARMA 2622026-02-17T05:49:17+00:00Muhammad Fahril Lakana[email protected]Alfiana P. Gonibala[email protected]Moh. Rasyid Kuna[email protected]<p>Pelayanan kefarmasian berorientasi secara langsung dan bertanggungjawab kepada pasien sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Apotek merupakan sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker untuk menjamin mutu pelayanan kefarmasian di apotek, maka harus dilakukan evaluasi mutu pelayananan kefarmasian. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas pelayanan di apotek adalah dengan mengukur tingkat kepuasan pelanggan. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan terhadap sistem pelayanan kefarmasian terutama dalam pelayanan obat tanpa resep yang diberikan di apotek Kimia Farma 262. Metode: Penelitian deskriptif adalah penelitian yang untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu fenomena yang terjadi di masyarakat. Penelitian ini dilakukan di apotek Kimia Farma 262 dengan jumlah sampel 100 orang. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner tingkat kepuasan konsumen terhadap kualitas pelayanan kefarmasian tanpa resep (swamedikasi). Hasil: Hasil menunjukan bahwa tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan farmasi tanpa resep (swamedikasi) di apotek Kimia Farma 262 berdasarkan 5 dimensi yaitu kehandalan (reliability) dengan persentase 86,12%, ketanggapan (responsiveness) dengan persentase 89,5%, jaminan (assurance) persentase 93,87 %, kepedulian (empathy) persentase 92,75% dan bukti fisik (tangible) persentase 88,12%. Kesimpulan: Pelanggan menilai pelayanan obat tanpa resep di Apotek Kimia Farma 262 sangat memuaskan. Sistem yang ada sudah memenuhi ekspektasi dan layak dipertahankan serta terus ditingkatkan</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Copyright Holderhttps://journal.iktgm.ac.id/pharmacy/article/view/271GAMBARAN PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN APOTEK KIMIA FARMA PELENGKAP RSUD KOTAMOBAGU 2026-02-17T05:58:51+00:00Apriandi Ando[email protected]Alfiana P. Gonibala[email protected]Moh. Rivaldi Mappa[email protected]<p>Pengaturan Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek bertujuan untuk meningkatkan mutu Pelayanan Kefarmasian, menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian dan melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan obat yang tidak rasional dalam rangka keselamatan pasien atau <em>patient safety. </em>Pelayanan kefarmasian dewasa ini telah bergeser orientasi, dari drug oriented menjadi patien oriented dan mengacu kepada pelaksanaan pharmaceutical care. Apoteker dituntut untuk selalu meningkatkan keterampilan dan pengetahuan serta perubahan perilaku agar dalam berinteraksi dengan pasien dapat dilakukan dengan baik. Penelitian ini beryujuan untuk mengetahui pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian Apotek Kimia Farma Pelengkap RSUD Kota Kotamobagu berdasarkan Permenkes No. 73 Tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif untuk melihat gambaran yang terjadi di dalam suatu populasi tertentu. Hasil yang diperoleh hasil bahwa gambaran pelayanan kefarmasian di Apotek Kimia Farma Pelengkap RSUD Kota Kotamobagu terdi atas pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai dengan kategori sangat baik (93 %) sedangkan pelayanan farmasi klinik kategori baik (72 %)</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Copyright Holderhttps://journal.iktgm.ac.id/pharmacy/article/view/272EVALUASI STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS KECEMATAN KOTABUNAN DAN PUSKESMAS KECEMATAN TUTUYAN2026-02-17T06:09:03+00:00<p>Pelayanan kefarmasian kegiatan yang terpadu untuk mengidentifikasi, pencegah dan menyelesaikan masalah kesehatan yang ada dan potensial. Kualitas layanan farmasi dan pelayanan farmasi yang lebih baik dan berorientasi pada pasien harus terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang berubah dan berkembang sehingga dapat mengurangi risiko pengobatan di puskesmas. Tujuan penelitian ini untu mengetahui standar pelayanan kefarmasian dipuskesmas kotabunan dan puskesmas tutuyan dengan permenkes No.74 tahun 2016. Metode yang digunakan yaitu kualitatif dengan menggunaka kuesione. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini yaitu untuk sarana prasarana puskesmas kotabunan sebesar 93 % dengan kategori baik dan puskesmas tutuyan 96% kategor baik. Pengelolaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai untuk puskesmas kotabunan sebesar 97,5% dengan kategori baik dan puskesmas tutuyan 100% dengan kategori baik. Pelayanan kefarmasian untuk puskesmas kotabunan sebesar 33,3% dengan kategori kurang dan puskesmas tutuyan sebesar 45,8% dengan kategori kurang. Berdasarkan hasil ini dapat disimpulkan apotek dipuskesmas kotabunan dan tutuyan sudah memenuhi standar pelayanan kefarmafasian No. 74 tahun 2016</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Copyright Holderhttps://journal.iktgm.ac.id/pharmacy/article/view/273ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA FLAVONOID EKSTRAK ETANOL FOLIUM PANDAN (Pandanus amaryllifolius Roxb.) MENGGUNAKAN METODE Spektrofotometri Uv-Vis (UV-Vis Spectrophotometry)2026-02-17T06:16:06+00:00<p>Daun pandan memiliki bagian daun yang bermanfaat untuk digunakan sebagai obat tradisional. Salah satu manfaatnya yaitu aktivitas sebagai antihipertensi yang terjadi karena adanya senyawa flavonoid yang menghambat <em>Angiotensin Converting Enzyme </em>(ACE). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengisolasi dan identifikasi senyawa flavonoid esktrak etanol daun pandan (<em>pandanus amaryllifolius roxb</em>) menggunakan metode spektrofotometri UV-VIs. Metode yang digunakan maserasi dengan hasil rendamen 11% .skrining fitokimia menunjukan adanya perubahan warna senyawa flavonoid. Di fraksinasi menggunakan pelarut etanol 96% dan n-heksan dengan perbandingan (75:75). Pada hasil uji klt menunjukan pemisahan senyawa yang baik menggunakan fase gerak n-heksan dan etil asetat (9:1) dengan nilai Rf 0,71, berfluorosensi warna biru dan merah.Pemisahan senyawa dengan metode kromatografi kolom menggunakan fase gerak n-heksan dan etil asetat berdasarkan tingkat kepolaran dan diperoleh fraksi yang menunjukan pemisahan yang paling baik. Isolat yang di peroleh menunjukan nilai Rf 0,71 diidentifikasi menggunakan spektrofotometri UV-Vis menunjukan kadar flavonoid sebesar 11,443 mgQE/g ekstrak.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Copyright Holderhttps://journal.iktgm.ac.id/pharmacy/article/view/274EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN PENYAKIT HIPERTENSI DI PUSKESMAS GOGAGOMAN2026-02-17T06:27:51+00:00<p>Pengobatan hipertensi yang di dapatkan pasien dasarnya haruslah rasional karena penyakit hipertensi termasuk salah satu faktor resiko terbesar penyebab morbiditas dan mortalitas pada penyakit kardiovaskular selain itu penyakit hipertensi jika tidak dideteksi secara dini dan ditangani dengan tepat dapat mengakibatkan infrak miokard, stroke, gagal ginjal bahkan kematian. Semakin meningkatnya angka kejadian hipertensi di indonesia maka harus dilakukan evaluasi penggunaan obat yang bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi dan mengetahui kesesuaian penggunaan obat antihipertensi di puskesmas gogagoman. Jenis penelitian dengan deskriptif yang pengumpulan data secara retrospektif yaitu resep pasien hipertensi pada bulan januari-februari tahun 2024. Data yang di peroleh kemudian di bandingkan dengan standar JNC VIII. Hasil penelitian menunjukan gambaran karakteristik pasien perempuan sebesar 65%. Pada hasil usia >55 tahun sebanyak 72%. Penggunaan obat antihipertensi pada obat tunggal yaitu amlodipin sebesar 87% dan kombinasi amlodipin dan captopril sebesar 12%. Evaluasi penggunaan obat antihipertensi berdasarkan tepat pasien sebanyak 80 pasien (96%), tepat indikasi sebanyak 83 pasien (100%), tepat dosis sebanyak 68 pasien (82%) dan tepat obat sebanyak 83 pasien (100%). Berdasarkan hasil dapat disimpulkan obat antihipertensi monoterapi yang paling banyak dipakai pada pasien hipertensi di puskesmas gogagoman ialah amlodipin sebanyak 72 pasien (87%) sedangkan kombinasi 2 obat (amlodipin dan captopril) sebanyak 10 pasien (12%). Penggunaan obat antihipertensi di puskesmas gogagoman periode januari-februari tahun 2024 ialah tepat pasien 100%, tepat indikasi 100%, tepat dosis 82% dan tepat obat 100%.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Copyright Holder