Abstrak
Latar Belakang: Peran adalah perilaku yang berkenaan dengan siapa yang memegang posisi tertentu, posisi mengidentifikasi status atau tempat seseorang dalam sistem sosial. Status adalah posisi yang dimiliki seseorang dalam suatu kelompok. Toilet training merupakan suatu usaha untuk melatih anak agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar.
Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan peran keluarga dan status ekonomi dengan pelaksanaan toilet training secara mandiri pada anak usia toddler (1-3 tahun).
Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah semua orang tua (ibu) yang memiliki anak usia 1 - 3 tahun di desa Molompar Timur Jaga I, II, III Kecamatan Belang yang berjumlah 32 orang, yang ditentukan dengan menggunakan total sampling. Sampel berjumlah 32 orang yang terdiri dari anak umur 3 tahun berjumlah 12 orang, anak umur 2 tahun berjumlah 13 orang dan anak berumur 1 tahun berjumlah 7 orang. Data dianalisa dengan menggunakan uji statistik chi-square dengan tingkat kemaknaan 95 % (α) : 0,05.
Hasil: Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan chi-square diperoleh nilai ρ-value = 0,000 lebih kecil dari nilai α = 0,05 dan diperoleh nilai ρ-value = 0,440 lebih besar dari nilai α = 0,05 Berarti H0 ditolak, maka ada hubungan peran keluarga dengan pelaksanaan toilet training dan H0 diterima maka tidak ada hubungan status ekonomi dengan pelaksanaan toilet training
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah proporsi keluarga yang berperan dalam pelaksanaan toilet training pada usia toddler jumlahnya lebih dari separuh jumlah responden di Desa Molompar Timur Jaga I,II,III Kecamatan Belang. Status ekonomi keluarga yang cukup dengan toilet training yang berhasil lebih banyak dibanding status ekonomi yang cukup dengan toilet training yang gagal. Ada hubungan peran keluarga dengan pelaksanaan toilet training dan tidak ada hubungan peran keluarga dengan pelaksanaan toilet training.
Hasil: Penelitian menunjukkan ada hubungan peran keluarga dengan pelaksanaan toilet training (p=0,000) dan tidak ada hubungan peran keluarga dengan pelaksanaan toilet training (p=0,440).
Kesimpulan: Terdapat hubungan peran keluarga dengan pelaksanaan toilet training dan tidak ada hubungan peran keluarga dengan pelaksanaan toilet training. Diharapkan kepada pemerintah setempat dan kader kesehatan untuk bekerja sama dengan petugas kesehatan yang berkompeten di desa tersebut untuk lebih meningkatkan pengetahuan orang tua khususnya tentang toilet training guna meningkatkan perilaku ibu dalam melatih toilet training pada anaknya.
