Abstrak
Latar Belakang : Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) atau kurang gizi kronik akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama, sehingga mengakibatkan anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Masalah stunting masih menjadi fokus utama dalam penanganan masalah gizi yang ada di Indonesia.
Metode : Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional study. Populasi pada penelitian ini adalah balita usia 24-49 bulan sebanyak 548 orang dan sampel pada penelitian ini merupakan bagian dari populasi yang diambil secara purposive sampling sehingga jumlah sampel sebanyak 137 orang di kalikan 2 menjadi 274 sampel. Analisis data secara univariat dan bivariat dengan teknik analisis Chy-square. Penelitian ini dimulai sejak tanggal 16 Juli sampai 15 Agustus 2022.
Hasil : Hasil penelitian menunjukan sebanyak 43 balita (16%) stunting dan sebanyak 231 balita (84%) balita tidak stunting. Ada hubungan PBLR (p=0.002), Asupan Protein (p=0.000)dan tidak ada hubungan Riwayat, BBLR (p=0.426), dan Riwayat Pemberian ASI Ekslusif (p=0.490) dengan kejadian stunting pada balita.
Kesimpulan: Diharapkan puskesmas dapat membuat program yang lebih membangun lagi untuk meminimalisir faktor resiko yang menyebabkan kejadian stunting.
